Kamis, 28 April 2011

Sabtu, 11 Desember 2010

KU SADARI

Kini kesadari rasa ini tak mungkin dapat terwujud dalam kisah kasih kita...............

Senin, 22 November 2010

Jumat, 19 Maret 2010

TIPS BIAR TIDAK BIMBANG

Kebimbangan itulah perasaan yang sering muncul di hati para lajang tatkala harus memutuskan dengan siapa ia akan menikah. Perasaan ini wajar muncul, karena keputusan menikah adalah keputusan besar yang akan mempengaruhi jalan hidup seseorang, karenanya mereka akan berhati-hati dalam menentukan calon pendamping hidupnya.

Tak ada gading yang tak retak, begitu yang dikatakan pepatah untuk mengungkapkan sebenarnya tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, namun sesungguhnya ada kualitas kepribadian dasar yang harus kita dan calon pasangan kita miliki agar dapat membina mahligai rumah tangga yang bahagia. Kualitas pribadi tersebut antara lain:


Kualitas Keberagamaan


Agama merupakan keyakinan yang mempengaruhi hati, fikiran perasaan dan tingkah laku seseorang sehingga orang yang mempunyai pemahaman serta pengalaman agamanya yang baik akan sangat terbantu dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi ini pada akhirnya akan mempengaruhi kebahagiaan dan kelanggengan sebuah perkawinan.


Memiliki Komitmen Untuk Mengembangkan Diri


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya msing-masing. Namun setiap orang juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Penting bagi kita untuk memiliki komitmen pengembangan pribadi ini, yaitu bagaimana seseorang memahami kekurangan yang ada, belajar dari kesalahan dan mau mendengarkan nasihat orang lain. Semua hal tersebut bermuara pada bagaimana ia membangun dan mengembangan dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijak.


Keterbukaan Emosional


Artinya adalah orang yang memiliki perasaan, mengetahui apa yang sedang dirasakan, mau berbagi perasaan dengan pasangannya dan mengetahui cara mengungkapkan perasaan. Keterbukaan Emosional menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dengan pasangan kita, sedangkan komunikasi yang baik adalah modal penting dalam membangun rumah tangga harmonis.


Memiliki Integritas


Setiap orang mendambakan calon pasangan yang mempunyai integritas diri.Kita menginginkan orang yang, jujur, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam hal ini terutama dengan pasangannya, kita juga ingin calon pasangan kita adalah orang yang tidak main-main dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi masa depannya. Itulah makna integritas diri.


Kematangan dan Tanggung Jawab


Memiliki kematangaan berarti ia bisa mengurus dirinya sendiri, tahu mana yang baik/buruk buat dirinya. Sedangkan bertanggung jawab berarti dia memahami langkah yang dia ambil beserta resiko-resiko yang mungkin dihadapi.


Memiliki Harga Diri


Ingatlah agar seseorang bisa mencintai ia harus cinta pada dirinya sendiri. Karena itu lihatlah bagaimana cintanya ia pada dirinya sendiri. Kalau ia sendiri tidak mencintai dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mencintai pasangannya?


Sikap Positif Terhadap Kehidupan


Mereka yang memiliki sikap hidup positif akan berusaha mengubah segala kendala menjadi peluang, dan biasanya percaya bahwa segalanya akan bisa menjadi baik.


Hal-hal yang mungkin akan membantu kita agar tidak salah paham dalam memilih pasangan:


1. Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikah dengan si dia.


Sediakan waktu yang cukup untuk memperoleh informasi yang memadai tentang calon pasangan anda tersebut. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari calon pasangan hidup kita itu:


a. Latar Belakang Kehidupan.


- Nasab/latar belakang keturunan mencakup hubungan keluarga asal, apakah berasal dari keluarga utuh, harmonis, atau broken home. Termasuk bentuk hubungan dengan saudara kandung.


- Agama, norma-norma atau nilai-nilai status sosial ekonomi, suku, tradisi budaya keluarga asal.


- Adakah penyakit keturunan yang berhubungan dengan faktor genetic.


b. Masalah yang berkaitan dengan kualitas diri


- Kualitas Dien.


- Akhlaq.


- Tipe kepribadian (tertutup/terbuka, pendiam, periang, emosional, sabar).


- Pendidikan, kapasitas intelektual, profesi.


- Latar belakang organisasi, aktivitas sosial.


- Kemampuan problem solving.


- Kepercayaan diri.


2. Jangan menikah di usia yang belum matang secara pribadi.


Siap menikah berarti siap menghadapai masalah yang semuanya menuntut kedewasaan berfikir dan bersikap. Kedewasaan ini tidak bisa di ukur dengan usianya lebih dewasa dibanding mereka yang lebih tua. Kedewasaan juga mempengaruhi dalam kita menentukan pilihan calon pasangan kita. Mereka yang kurang matang cenderung hanya terpukau pada hal-hal yang bersifat luaran saja.


3. Jangan memilih pasangan hanya untuk menyenangkan orang lain.


Andalah orang yang beruntung atau yang menderita dengan pernikahan anda. Kalau pun ada faktor orang lain dalam mempertemukan antara anda dengan si dia pastikan bahwa anda sendirilah yang memutuskan bahwa dialah yang memang terbaik buat anda (tentunya beristiqarah terlebih dahulu).


4. Jangan menikah dengan harapan-harapan yang tidak realistis.


Biasanya niatan awal menikah mempengaruhi masalah-masalah apa yang akan mendominasi selama kehidupan perkawinan. Kepuasan dalam kehidupan perkawinan dan terhadap tolak ukurnya berada pada harapan tersebut. Bila tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan.


5. Jangan menikah dengan seseorang yang memilki masalah kepribadian


Berhati-hatilah terhadap orang yang memiliki kepribadian yang sulit untuk dirubah, diperlukan pengertian dan lapang dada yang luar biasa untuk menghadapi orang seperti ini. Pada dasarnya setiap orang memiliki perilakubermasalah, namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kadar, intensitas dan frekwensinya seseorang yang masuk dalam kategori mengalami masalah kepribadian adalah bila memiliki prilaku bermasalah yang mendominasi keseharian dan mempengaruhi adaptasinya dengan orang lain.Biasanya orang seperti ini sering membuat orang lain atau dirinya sendiri merasa terganggu dan tidak nyaman dengan perilakunya.

Minggu, 14 Maret 2010

Cara-cara Mencari Jodoh yang Sesuai dengan aturan Allah ( Syariat Islam )

Saudaraku yang dicintai Allah SWT, sebaiknya kalau kita mencari jodoh mengikuti cara-cara yang islami agar diridhoi Allah SWT. Dalam Islam ada aturan untuk mencari jodoh sebagai berikut :

Adapun cara-cara mencari jodoh yang sesuai dengan aturan Allah SWT ada dua, yaitu :

1. Melalui Perantara.


Perantara bisa siapa saja, temen dekat yang dipercaya, orang tua, guru ngaji. Mereka bisa dimintai tolong untuk mencarikan jodoh untuk kita.

2. Mencari Sendiri Tanpa Melalui Pacaran.


Cara yang kedua ini mungkin sulit bagi sementara orang. Bagaimana bisa mencari jodoh sendiri tanpa melalui pacaran? Bukankah pacaran merupakan sarana untuk mengenal calon pasangan kita? Lalu...

Dapatkah dijamin kita akan cocok dengan pasangan kita jika tidak melalui pacaran?

Jawabannya adalah : BISA

Bisa menikah tanpa pacaran dan bisa cocok sampai hayat di kandung badan. Nenek moyang kita telah mempraktekkan hal tersebut sejak lama dan terbukti cocok. Bahkan sekarang ini malah kita menyaksikan sendiri bahwa angka perceraian semakin tinggi, justru ketika budaya pacaran menjadi umum dalam masyarakat kita. Ternyata pacaran tidak menjamin kecocokan dalam berumah tangga. Jadi, cocok atau tidaknya kita dengan pasangan bukan karena pacaran, tetapi karena kesiapan untuk menerima pasangan kita apa adanya. Walau tidak pacaran, tetapi hati dan mental kita lebih siap (ikhlas) untuk menerima kekurangan dari pasangan, maka rumah tangga kita akan langgeng sampai akhir hayat. Sebaliknya, walau pacaran bertahun-tahun tapi ternyata mental dan hati kita tidak siap menerima kekurangan pasangan, maka pernikahan akan mudah bubar dalam waktu yang singkat.

Cara mencari sendiri tanpa pacaran adalah dengan cara ‘menembak’ (langsung mengutarakan keinginan untuk menikahi orang yang kita taksir). Contohnya adalah ketika Khadijah ra meminta Nabi Muhammad saw untuk menikahinya. Cara ini biasanya didahului dengan mencari informasi tentang orang yang akan kita “tembak” tersebut. Cara mencari informasinya bisa melalui teman akrabnya, gurunya, dan orang-orang terdekat dengannya. Cara yang ditempuh harus smooth (halus), sehingga tidak terkesan terlalu agresif. Lalu dilanjutkan dengan memberikan sinyal kepada orang yang kita taksir tersebut apakah ia siap untuk kita ajak menikah. Kalau sinyalnya positif, maka kita bisa menyampaikan hasrat kita kepadanya. Bisa melalui perantara atau bisa juga langsung mengutarakan kepadanya. Kalau diterima alhamdulillah dan kalau pun ditolak jangan sakit hati.


Sekarang ini, akibat ghozwul fikri (perang pemikiran), mencari jodoh dianggap sebagai hak pribadi semata dan melupakan pertimbangan sosial (pertimbangan orang-orang di sekitarnya). Atas nama cinta mereka memaksakan diri menikah dengan orang-orang yang menurut pandangan sosial sebetulnya tidak cocok untuk menjadi jodoh mereka. Atas nama cinta, mereka rela merusak hubungan dengan orang tua dan keluarga besar karena menikah dengan orang yang beda agama atau beda akhlaq (life style). Hal ini tidak benar. Mencari jodoh dan menikah dalam Islam adalah masalah sosial. Jadi perlu melibatkan banyak orang untuk dimintai pertimbangan, termasuk salah satunya adalah orang tua kita.


Ikuti langkah-langkah yang diajarkan Islam, niscaya hidup Anda akan lebih selamat dan berkah...

Kamis, 04 Maret 2010

Arti Cinta dalam ISLAM

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.

Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.

Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan

Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:

1) Iman yang kuat

2) Ikhlas dalam beramal

3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal.
Kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu.
Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya...

Mulianya Hati Seorang Ibu

Hari telah larut malam. Suasana sangat hening, dan semua insan telah lelap dalam tidurnya. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba keheningan malam itu terpecahkan oleh suara tangisan seorang bayi dari sebuah rumah. Sang ibu yang tengah terlelap dalam tidurnya pun bergegas bangun dan menghampiri buah hatinya. Rasa kantuk yang menggelayuti tidak dihiraukannya.

“Oh.. adik pipis ya?” ibu itu berkata sendiri sambil mengganti pakaian bayinya yang telah basah.

Setelah itu sang ibu pun mendekap anaknya agar berhenti menangis dan tertidur kembali. Tak lama kemudian si kecil pun tertidur kembali. Sedangkan ibu tadi, meskipun telah berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau dipejamkan hingga fajar pun tiba.

Pengalaman seperti ini kerap sekali dialami oleh seorang ibu yang mempunyai momongan kecil, dan hampir semua ibu pernah mengalaminya.

Dari sini cobalah kita kembali merenungkan, betapa besarnya penderitaan seorang ibu. Bagaimana beratnya beliau ketika mengandung anaknya selama berbulan-bulan. Betapa sakitnya beliau ketika melahirkan anaknya, dan betapa berat dan susahnya beliau ketika menyusui. Ia jaga dan pelihara buah hatinya lebih dari menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.

Ketika anaknya lapar, ia menyuapinya dengan penuh kesabaran. Ketika malam telah larut dan dingin, sang ibu pun meninabobokan si kecil dalam buaiannya. Dengan penuh kasih sayang ia menimangnya.

Allah Ta’ala berfirman:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً

“ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (Al Ahqaaf: 15)

Curahan cinta dan kasih sayangnya dilimpahkan tanpa pamrih kepada buah hatinya agar sang anak tetap gembira dan bahagia. Segala macam rintangan diterjangnya dengan jerih payah yang tanpa pamrih. Semua ini dilakukan hanya untuk melindungi anaknya dan untuk menghantarkan puteranya agar sukses dalam meraih kebahagiaan.

Tangan sang ibu telah banyak memberi arti dalam tiap lembar kehidupan anaknya. Saat sang buah hati ketakutan dalam gelapnya malam, sang ibu pun mendekapnya dengan penuh perlindungan dan kasih sayang. Dibisikannya kalimat-kalimat tauhid yang akan tetap terukir indah dalam hatinya,

“Jangan engkau takut wahai anakku, bukan gelapnya malam yang pantas engkau takuti akan tetapi Allah Tuhan sekalian manusia. Nah sekarang hilangkanlah ketakutan itu karena Allah Maha Melihatmu dan pasti akan melindungimu”.

Bisikan-bisikan itulah yang telah memberi ketenangan dan menumbuhkan keberanian pada jiwa anaknya.


Begitu pula ketika dilanda duka karena banyaknya problematika yang tidak bisa dipecahkan ketika anaknya telah beranjak dewasa. Sang ibu dengan penuh kesabaran mendengarkan setiap permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan penuh perhatian ibu pun memberikan motivasi kepada kita agar dalam hidup jangan sampai ada kata menyerah dan putus asa. Sungguh itulah yang akan membuat sang anak menjadi tegar dan bergembira. Lihatlah betapa besarnya jasa ibu kepada anaknya.

Sekarang coba kita renungkan kembali segala tingkah laku dan sikap kita kepada ibu. Perbuatan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Seringkali kita membuat hati ibu kita menjadi sedih dengan bantahan-bantahan kecil yang mungkin bagi kita itu biasa saja tanpa meninggalkan luka, namun sebenarnya sangat manyakitkan bagi ibu kita.

Padahal, beliau telah mengasuh kita sejak masih bayi dan memelihara kita hingga kita beranjak dewasa. Semua jerih payah ibu telah kita minum dann rengguk sepuasnya. Bila kita sakit di malam hari, hati ibu pun gelisah lantaran sakit yang kita derita. Ibu pun tak bisa memejamkan mata, seakan-akan beliau sendiri yang merasakan sakitnya. Air mata beliau pun mengucur deras, hatinya takut jika kita dijemput maut.

Tetapi kini setelah kita dewasa dan meraih apa yang kita citakan, kita balas dengan perbuatan yang sebaliknya. Seolah kita yang telah memberikan jasa dan kebaikan kepadanya. Kita perlakukan ibu bagaikan seorang pembantu dan tetangga jauh. Bahkan kadang kita menyalahkan dan bersikap kasar dengan membentaknya.

Apakah pantas kita berbuat seperti itu? Pantaskah kita mengabaikan dan menyiakan segala kasih sayang dan penderitaan ibu kita selama ini? Beliau hidup susah di akhir hayatnya tanpa ada yang memelihara dan menyantuninya. Tegakah kita membiarkannya hidup bersama orang lain karena kita enggan dan malu untuk merawatnya?

Wahai saudaraku, begitu besar jasa ibu kepada kita dan tidak mungkin kita akan bisa membalas dengan sepenuhnya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al Ahqaaf: 15)

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . (Al Israa’: 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Israa’: 24)

Wahai saudaraku, janganlah kita hanya bisa menangis saat teringat akan ibu-ibu kita. Tapi tunjukkanlah wujud bakti kita kepada mereka. Ingatlah, tidak ada kata terlambat untuk memulainya!