Sabtu, 11 Desember 2010
Senin, 22 November 2010
Jumat, 19 Maret 2010
TIPS BIAR TIDAK BIMBANG
Tak ada gading yang tak retak, begitu yang dikatakan pepatah untuk mengungkapkan sebenarnya tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, namun sesungguhnya ada kualitas kepribadian dasar yang harus kita dan calon pasangan kita miliki agar dapat membina mahligai rumah tangga yang bahagia. Kualitas pribadi tersebut antara lain:
Kualitas Keberagamaan
Agama merupakan keyakinan yang mempengaruhi hati, fikiran perasaan dan tingkah laku seseorang sehingga orang yang mempunyai pemahaman serta pengalaman agamanya yang baik akan sangat terbantu dalam mengatasi berbagai masalah. Kondisi ini pada akhirnya akan mempengaruhi kebahagiaan dan kelanggengan sebuah perkawinan.
Memiliki Komitmen Untuk Mengembangkan Diri
Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya msing-masing. Namun setiap orang juga memiliki kesempatan untuk berkembang. Penting bagi kita untuk memiliki komitmen pengembangan pribadi ini, yaitu bagaimana seseorang memahami kekurangan yang ada, belajar dari kesalahan dan mau mendengarkan nasihat orang lain. Semua hal tersebut bermuara pada bagaimana ia membangun dan mengembangan dirinya agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bijak.
Keterbukaan Emosional
Artinya adalah orang yang memiliki perasaan, mengetahui apa yang sedang dirasakan, mau berbagi perasaan dengan pasangannya dan mengetahui cara mengungkapkan perasaan. Keterbukaan Emosional menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dengan pasangan kita, sedangkan komunikasi yang baik adalah modal penting dalam membangun rumah tangga harmonis.
Memiliki Integritas
Setiap orang mendambakan calon pasangan yang mempunyai integritas diri.Kita menginginkan orang yang, jujur, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dalam hal ini terutama dengan pasangannya, kita juga ingin calon pasangan kita adalah orang yang tidak main-main dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi masa depannya. Itulah makna integritas diri.
Kematangan dan Tanggung Jawab
Memiliki kematangaan berarti ia bisa mengurus dirinya sendiri, tahu mana yang baik/buruk buat dirinya. Sedangkan bertanggung jawab berarti dia memahami langkah yang dia ambil beserta resiko-resiko yang mungkin dihadapi.
Memiliki Harga Diri
Ingatlah agar seseorang bisa mencintai ia harus cinta pada dirinya sendiri. Karena itu lihatlah bagaimana cintanya ia pada dirinya sendiri. Kalau ia sendiri tidak mencintai dirinya, bagaimana mungkin ia bisa mencintai pasangannya?
Sikap Positif Terhadap Kehidupan
Mereka yang memiliki sikap hidup positif akan berusaha mengubah segala kendala menjadi peluang, dan biasanya percaya bahwa segalanya akan bisa menjadi baik.
Hal-hal yang mungkin akan membantu kita agar tidak salah paham dalam memilih pasangan:
1. Jangan terlalu cepat memutuskan untuk menikah dengan si dia.
Sediakan waktu yang cukup untuk memperoleh informasi yang memadai tentang calon pasangan anda tersebut. Ada beberapa hal yang perlu kita ketahui dari calon pasangan hidup kita itu:
a. Latar Belakang Kehidupan.
- Nasab/latar belakang keturunan mencakup hubungan keluarga asal, apakah berasal dari keluarga utuh, harmonis, atau broken home. Termasuk bentuk hubungan dengan saudara kandung.
- Agama, norma-norma atau nilai-nilai status sosial ekonomi, suku, tradisi budaya keluarga asal.
- Adakah penyakit keturunan yang berhubungan dengan faktor genetic.
b. Masalah yang berkaitan dengan kualitas diri
- Kualitas Dien.
- Akhlaq.
- Tipe kepribadian (tertutup/terbuka, pendiam, periang, emosional, sabar).
- Pendidikan, kapasitas intelektual, profesi.
- Latar belakang organisasi, aktivitas sosial.
- Kemampuan problem solving.
- Kepercayaan diri.
2. Jangan menikah di usia yang belum matang secara pribadi.
Siap menikah berarti siap menghadapai masalah yang semuanya menuntut kedewasaan berfikir dan bersikap. Kedewasaan ini tidak bisa di ukur dengan usianya lebih dewasa dibanding mereka yang lebih tua. Kedewasaan juga mempengaruhi dalam kita menentukan pilihan calon pasangan kita. Mereka yang kurang matang cenderung hanya terpukau pada hal-hal yang bersifat luaran saja.
3. Jangan memilih pasangan hanya untuk menyenangkan orang lain.
Andalah orang yang beruntung atau yang menderita dengan pernikahan anda. Kalau pun ada faktor orang lain dalam mempertemukan antara anda dengan si dia pastikan bahwa anda sendirilah yang memutuskan bahwa dialah yang memang terbaik buat anda (tentunya beristiqarah terlebih dahulu).
4. Jangan menikah dengan harapan-harapan yang tidak realistis.
Biasanya niatan awal menikah mempengaruhi masalah-masalah apa yang akan mendominasi selama kehidupan perkawinan. Kepuasan dalam kehidupan perkawinan dan terhadap tolak ukurnya berada pada harapan tersebut. Bila tidak terpenuhi akan menimbulkan kekecewaan.
5. Jangan menikah dengan seseorang yang memilki masalah kepribadian
Berhati-hatilah terhadap orang yang memiliki kepribadian yang sulit untuk dirubah, diperlukan pengertian dan lapang dada yang luar biasa untuk menghadapi orang seperti ini. Pada dasarnya setiap orang memiliki perilakubermasalah, namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana kadar, intensitas dan frekwensinya seseorang yang masuk dalam kategori mengalami masalah kepribadian adalah bila memiliki prilaku bermasalah yang mendominasi keseharian dan mempengaruhi adaptasinya dengan orang lain.Biasanya orang seperti ini sering membuat orang lain atau dirinya sendiri merasa terganggu dan tidak nyaman dengan perilakunya.
Minggu, 14 Maret 2010
Cara-cara Mencari Jodoh yang Sesuai dengan aturan Allah ( Syariat Islam )
Adapun cara-cara mencari jodoh yang sesuai dengan aturan Allah SWT ada dua, yaitu :
1. Melalui Perantara.
Perantara bisa siapa saja, temen dekat yang dipercaya, orang tua, guru ngaji. Mereka bisa dimintai tolong untuk mencarikan jodoh untuk kita.
2. Mencari Sendiri Tanpa Melalui Pacaran.
Cara yang kedua ini mungkin sulit bagi sementara orang. Bagaimana bisa mencari jodoh sendiri tanpa melalui pacaran? Bukankah pacaran merupakan sarana untuk mengenal calon pasangan kita? Lalu...
Dapatkah dijamin kita akan cocok dengan pasangan kita jika tidak melalui pacaran?
Jawabannya adalah : BISA
Bisa menikah tanpa pacaran dan bisa cocok sampai hayat di kandung badan. Nenek moyang kita telah mempraktekkan hal tersebut sejak lama dan terbukti cocok. Bahkan sekarang ini malah kita menyaksikan sendiri bahwa angka perceraian semakin tinggi, justru ketika budaya pacaran menjadi umum dalam masyarakat kita. Ternyata pacaran tidak menjamin kecocokan dalam berumah tangga. Jadi, cocok atau tidaknya kita dengan pasangan bukan karena pacaran, tetapi karena kesiapan untuk menerima pasangan kita apa adanya. Walau tidak pacaran, tetapi hati dan mental kita lebih siap (ikhlas) untuk menerima kekurangan dari pasangan, maka rumah tangga kita akan langgeng sampai akhir hayat. Sebaliknya, walau pacaran bertahun-tahun tapi ternyata mental dan hati kita tidak siap menerima kekurangan pasangan, maka pernikahan akan mudah bubar dalam waktu yang singkat.
Cara mencari sendiri tanpa pacaran adalah dengan cara ‘menembak’ (langsung mengutarakan keinginan untuk menikahi orang yang kita taksir). Contohnya adalah ketika Khadijah ra meminta Nabi Muhammad saw untuk menikahinya. Cara ini biasanya didahului dengan mencari informasi tentang orang yang akan kita “tembak” tersebut. Cara mencari informasinya bisa melalui teman akrabnya, gurunya, dan orang-orang terdekat dengannya. Cara yang ditempuh harus smooth (halus), sehingga tidak terkesan terlalu agresif. Lalu dilanjutkan dengan memberikan sinyal kepada orang yang kita taksir tersebut apakah ia siap untuk kita ajak menikah. Kalau sinyalnya positif, maka kita bisa menyampaikan hasrat kita kepadanya. Bisa melalui perantara atau bisa juga langsung mengutarakan kepadanya. Kalau diterima alhamdulillah dan kalau pun ditolak jangan sakit hati.
Sekarang ini, akibat ghozwul fikri (perang pemikiran), mencari jodoh dianggap sebagai hak pribadi semata dan melupakan pertimbangan sosial (pertimbangan orang-orang di sekitarnya). Atas nama cinta mereka memaksakan diri menikah dengan orang-orang yang menurut pandangan sosial sebetulnya tidak cocok untuk menjadi jodoh mereka. Atas nama cinta, mereka rela merusak hubungan dengan orang tua dan keluarga besar karena menikah dengan orang yang beda agama atau beda akhlaq (life style). Hal ini tidak benar. Mencari jodoh dan menikah dalam Islam adalah masalah sosial. Jadi perlu melibatkan banyak orang untuk dimintai pertimbangan, termasuk salah satunya adalah orang tua kita.
Ikuti langkah-langkah yang diajarkan Islam, niscaya hidup Anda akan lebih selamat dan berkah...
Kamis, 04 Maret 2010
Arti Cinta dalam ISLAM
Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni.
Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.
Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.
Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.
Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…
Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
1) Iman yang kuat
2) Ikhlas dalam beramal
3) Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal.
Kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu.
Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya...
Mulianya Hati Seorang Ibu
“Oh.. adik pipis ya?” ibu itu berkata sendiri sambil mengganti pakaian bayinya yang telah basah.
Setelah itu sang ibu pun mendekap anaknya agar berhenti menangis dan tertidur kembali. Tak lama kemudian si kecil pun tertidur kembali. Sedangkan ibu tadi, meskipun telah berusaha untuk tidur, namun matanya tak mau dipejamkan hingga fajar pun tiba.
Pengalaman seperti ini kerap sekali dialami oleh seorang ibu yang mempunyai momongan kecil, dan hampir semua ibu pernah mengalaminya.
Dari sini cobalah kita kembali merenungkan, betapa besarnya penderitaan seorang ibu. Bagaimana beratnya beliau ketika mengandung anaknya selama berbulan-bulan. Betapa sakitnya beliau ketika melahirkan anaknya, dan betapa berat dan susahnya beliau ketika menyusui. Ia jaga dan pelihara buah hatinya lebih dari menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.
Ketika anaknya lapar, ia menyuapinya dengan penuh kesabaran. Ketika malam telah larut dan dingin, sang ibu pun meninabobokan si kecil dalam buaiannya. Dengan penuh kasih sayang ia menimangnya.
Allah Ta’ala berfirman:
حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً
“ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (Al Ahqaaf: 15)
Curahan cinta dan kasih sayangnya dilimpahkan tanpa pamrih kepada buah hatinya agar sang anak tetap gembira dan bahagia. Segala macam rintangan diterjangnya dengan jerih payah yang tanpa pamrih. Semua ini dilakukan hanya untuk melindungi anaknya dan untuk menghantarkan puteranya agar sukses dalam meraih kebahagiaan.
Tangan sang ibu telah banyak memberi arti dalam tiap lembar kehidupan anaknya. Saat sang buah hati ketakutan dalam gelapnya malam, sang ibu pun mendekapnya dengan penuh perlindungan dan kasih sayang. Dibisikannya kalimat-kalimat tauhid yang akan tetap terukir indah dalam hatinya,
“Jangan engkau takut wahai anakku, bukan gelapnya malam yang pantas engkau takuti akan tetapi Allah Tuhan sekalian manusia. Nah sekarang hilangkanlah ketakutan itu karena Allah Maha Melihatmu dan pasti akan melindungimu”.
Bisikan-bisikan itulah yang telah memberi ketenangan dan menumbuhkan keberanian pada jiwa anaknya.
Begitu pula ketika dilanda duka karena banyaknya problematika yang tidak bisa dipecahkan ketika anaknya telah beranjak dewasa. Sang ibu dengan penuh kesabaran mendengarkan setiap permasalahan yang sedang dihadapinya. Dengan penuh perhatian ibu pun memberikan motivasi kepada kita agar dalam hidup jangan sampai ada kata menyerah dan putus asa. Sungguh itulah yang akan membuat sang anak menjadi tegar dan bergembira. Lihatlah betapa besarnya jasa ibu kepada anaknya.
Sekarang coba kita renungkan kembali segala tingkah laku dan sikap kita kepada ibu. Perbuatan yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Seringkali kita membuat hati ibu kita menjadi sedih dengan bantahan-bantahan kecil yang mungkin bagi kita itu biasa saja tanpa meninggalkan luka, namun sebenarnya sangat manyakitkan bagi ibu kita.
Padahal, beliau telah mengasuh kita sejak masih bayi dan memelihara kita hingga kita beranjak dewasa. Semua jerih payah ibu telah kita minum dann rengguk sepuasnya. Bila kita sakit di malam hari, hati ibu pun gelisah lantaran sakit yang kita derita. Ibu pun tak bisa memejamkan mata, seakan-akan beliau sendiri yang merasakan sakitnya. Air mata beliau pun mengucur deras, hatinya takut jika kita dijemput maut.
Tetapi kini setelah kita dewasa dan meraih apa yang kita citakan, kita balas dengan perbuatan yang sebaliknya. Seolah kita yang telah memberikan jasa dan kebaikan kepadanya. Kita perlakukan ibu bagaikan seorang pembantu dan tetangga jauh. Bahkan kadang kita menyalahkan dan bersikap kasar dengan membentaknya.
Apakah pantas kita berbuat seperti itu? Pantaskah kita mengabaikan dan menyiakan segala kasih sayang dan penderitaan ibu kita selama ini? Beliau hidup susah di akhir hayatnya tanpa ada yang memelihara dan menyantuninya. Tegakah kita membiarkannya hidup bersama orang lain karena kita enggan dan malu untuk merawatnya?
Wahai saudaraku, begitu besar jasa ibu kepada kita dan tidak mungkin kita akan bisa membalas dengan sepenuhnya.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (Al Ahqaaf: 15)
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia . (Al Israa’: 23)
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” (Al Israa’: 24)
Wahai saudaraku, janganlah kita hanya bisa menangis saat teringat akan ibu-ibu kita. Tapi tunjukkanlah wujud bakti kita kepada mereka. Ingatlah, tidak ada kata terlambat untuk memulainya!
19 Keistimewaan Wanita
1. Surga itu dibawah telapak kaki ibu.
Ibu disini bukan sekedar ibu yang mengandung dan melahirkan kita. Tapi juga ibu yang merawat dan mendidik kita penuh cinta dan kasih sayang serta pengorbanan yang tanpa batas.
2. Wanita yang sholehah (baik) itu lebih baik dari pada 1000 lelaki yang soleh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seperti orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah Swt dan orang yang menangis karena takut kepada Allah swt akan diharamkan api neraka diatas tubuhnya.
4. Barang siapa yang membawa hadiah (barang, makanan dari pasar kerumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti sedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan dari pada anak laki – laki. Maka barang siapa yang menyukai anak perempuan seolah – olah ia memerdekakan anak nabi Ismail as.
5. Wanita yang tinggal bersama anak – anaknya, akan tinggal bersama aku (Rasulullah saw) di dalam Surga.
6. Barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah Surga.
7. Dari Aisyah ra. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak – anak perempuannya lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya api neraka.”
8. Do’a wanita lebih maqbul dari pada laki – laki karena wanita lebih mempunyai kasih sayang yang kuat dari pada laki-laki. Ketika ditanya Rasulullah saw. akan hal tersebut, jawab baginda “Ibu lebih penyayang dari pada Bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia – sia”
9. Apabila memanggil kedua Ibu Bapakmu maka jawablah panggilan ibumu dulu.
10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu – pintu surga. Masukklah dari pintu mana saja yang engkau kehendaki tanpa ada hisab.
11. Wanita yang taat kepada suaminya, semua ikan – ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya selama ia taat kepada suaminya dan rekannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
12. Aisyah ra. Berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah saw., Siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita: “Suaminya” “Siapa lagi yang lebih berhak terhadap lelaki?” Jawab Rasulullah Saw.: “Ibunya”
13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, memelihara pada suaminya serta taat pada suaminya, masuklah ke dalam pintu surga dari mana saja yang ia kehendaki..
14. Tiap perempuan mana saja yang menolong suaminya untuk urusan agama, maka Allah swt. Memasukkannya ke dalam surga terlebih dahulu dari pada suaminya (10.000 tahun)
15. Apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfar para malaikat untuknya. Allah swt. Mencatatnya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskannya 1000 kejahatan.
16. Apabila seorang wanita melahirkan anak, maka keluarlah ia dari dosa – dosa seperti ibunya melahirkan.
17. Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin, maka Allah swt. Mencatatkan baginya orang yang berjihad kepada jalan Allah swt.
18. Apabila telah lahir anak, lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukkan dari air susunya diberi satu kebajikan
19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah swt memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah swt.
32 Cara Berbakti kepada Orang Tua
“Ah” kepada mereka, jangan hardik mereka, berucaplah kepada mereka dengan ucapan yang
mulia.
2. Selalu taati mereka berdua di dalam perkara selain maksiat, dan tidak ada ketaatan kepada
makhluk di dalam bermaksiat kepada sang Khalik.
3. Lemah lembutlah kepada kedua
orangtuamu, janganlah bermuka masam serta memandang mereka dengan pandangan yang
sinis.
4. Jagalah nama baik, kemuliaan, serta harta mereka. Janganlah engkau mengambil sesuatu
tanpa seizin mereka.
5. Kerjakanlah perkara-perkara yang dapat meringankan beban mereka meskipun tanpa
diperintah. Seperti melayani mereka, belanja ke warung, dan pekerjaan rumah lainnya, serta
bersungguh-sungguhlah dalam menuntut ilmu.
6. Bermusyawarahlah dengan mereka berdua dalam seluruh kegiatanmu. Dan berikanlah alasan jika engkau terpaksa menyelisihi pendapat mereka.
7. Penuhi panggilan mereka dengan segera dan disertai wajah yang berseri dan menjawab, “Ya
ibu, ya ayah”. Janganlah memanggil dengan, “Ya papa, ya mama”, karena itu panggilan orang
asing (orang-orang barat maksudnya –pent.).
8. Muliakan teman serta kerabat mereka ketika kedua orang tuamu masih hidup, begitu pula
setelah mereka telah wafat.
9. Janganlah engkau bantah dan engkau salahkan mereka berdua. Santun dan beradablah
ketika menjelaskan yang benar kepada mereka.
10. Janganlah berbuat kasar kepada mereka berdua, jangan pula engkau angkat suaramu
kepada mereka. Diamlah ketika mereka sedang berbicara, beradablah ketika bersama mereka.
Janganlah engkau berteriak kepada salah seorang saudaramu sebagai bentuk penghormatan
kepada mereka berdua.
11. Bersegeralah menemui keduanya jika mereka mengunjungimu, dan ciumlah kepala mereka.
12. Bantulah ibumu di rumah. Dan jangan pula engkau menunda membantu pekerjaan ibumu.
13. Janganlah engkau pergi jika mereka berdua tidak mengizinkan meskipun itu untuk perkara
yang penting. Apabila kondisinya darurat maka berikanlah alasan ini kepada mereka dan
janganlah putus komunikasi dengan mereka.
14. Janganlah masuk menemui mereka tanpa izin terlebih dahulu, apalagi di waktu tidur dan
istirahat mereka.
15. Jika engkau kecanduan merokok, maka janganlah merokok di hadapan mereka.
16. Jangan makan dulu sebelum mereka makan, muliakanlah mereka dalam (menyajikan)
makanan dan minuman.
17. Janganlah engkau berdusta kepada mereka dan jangan mencela mereka jika mereka
mengerjakan perbuatan yang tidak engkau sukai.
18. Jangan engkau utamakan istri dan anakmu di atas mereka. Mintalah keridhaan mereka
berdua sebelum melakukan sesuatu karena ridha Allah tergantung ridha orang tua. Begitu juga
kemurkaan Allah tergantung kemurkaan mereka berdua.
19. Jangan engkau duduk di tempat yang lebih tinggi dari mereka. Jangan engkau julurkan
kakimu di hadapan mereka karena sombong.
20. Jangan engkau menyombongkan kedudukanmu di hadapan bapakmu meskipun engkau
seorang pejabat besar. Hati-hati, jangan sampai engkau mengingkari kebaikan-kebaikan
mereka berdua atau menyakiti mereka walaupun dengan hanya satu kalimat.
21. Jangan pelit dalam memberikan nafkah kepada kedua orang tua sampai mereka mengeluh.
Ini merupakan aib bagimu. Engkau juga akan melihat ini terjadi pada anakmu. Sebagaimana
engkau memperlakukan orang tuamu, begitu pula engkau akan diperlakukan sebagai orang
tua.
22. Banyaklah berkunjung kepada kedua orang tua, dan persembahkan hadiah bagi mereka.
Berterimakasihlah atas perawatan mereka serta atas kesulitan yang mereka hadapi.
Hendaknya engkau mengambil pelajaran dari kesulitanmu serta deritamu ketika mendidik
anak-anakmu.
23. Orang yang paling berhak untuk dimuliakan adalah ibumu, kemudian bapakmu. Dan
ketahuilah bahwa surga itu di telapak kaki ibu-ibu kalian.
24. Berhati-hati dari durhaka kepada kedua orang tua serta dari kemurkaan mereka. Engkau
akan celaka dunia akhirat. Anak-anakmu nanti akan memperlakukanmu sama seperti engkau
memperlakukan kedua orangtuamu.
25. Jika engkau meminta sesuatu kepada kedua orang tuamu, mintalah dengan lembut dan
berterima kasihlah jika mereka memberikannya. Dan maafkanlah mereka jika mereka tidak
memberimu. Janganlah banyak meminta kepada mereka karena hal itu akan memberatkan
mereka berdua.
26. Jika engkau mampu mencukupi rezeki mereka maka cukupilah, dan bahagiakanlah kedua
orangtuamu.
27. Sesungguhnya orang tuamu punya hak atas dirimu. Begitu pula pasanganmu (suami/istri)
memiliki hak atas dirimu. Maka penuhilah haknya masing-masing. Berusahalah untuk
menyatukan hak tersebut apabila saling berbenturan. Berikanlah hadiah bagi tiap-tiap pihak
secara diam-diam.
28. Jika kedua orang tuamu bermusuhan dengan istrimu maka jadilah engkau sebagai
penengah. Dan pahamkan kepada istrimu bahwa engkau berada di pihaknya jika dia benar,
namun engkau terpaksa melakukannya karena menginginkan ridha kedua orang tuamu.
29. Jika engkau berselisih dengan kedua orang tuamu di dalam masalah pernikahan atau
perceraian, maka hendaknya kalian berhukum kepada syari’at karena syari’atlah
sebaik-baiknya pertolongan bagi kalian.
30. Doa kedua orang itu mustajab baik dalam kebaikan maupun doa kejelekan. Maka
berhati-hatilah dari doa kejelekan mereka atas dirimu.
31. Beradablah yang baik kepada orang-orang. Siapa yang mencela orang lain maka orang
tersebut akan kembali mencelanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya dengan cara dia
mencela bapaknya orang lain, maka orang tersebut balas mencela bapaknya. Dia mencela ibu
seseorang, maka orang tersebut balas mencela ibunya.” (Muttafaqun ‘alaihi).
32. Kunjungilah mereka disaat mereka hidup dan ziarahilah ketika mereka telah wafat.
Bershadaqahlah atas nama mereka dan banyaklah berdoa bagi mereka berdua dengan
mengucapkan,
“Wahai Rabb-ku ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Waha Rabb-ku, rahmatilah mereka
berdua sebagaimana mereka telah merawatku ketika kecil”.
Minggu, 28 Februari 2010
IBU IS MY WOMEN'S HERO
Dan untuk bisa mendapat tiket masuk ke jalan tersebut, dibutuhkan "Do'a Ibu", karena Ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata Allah...
Kenanglah Ibu yang menyayangimu...
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi...
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu...
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut.
Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada...
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita...
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia...
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan...
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit...
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu di setiap hembusan nafasnya...
Kembalilah segera...
Peluklah ibu yang selalu menyayangimu...
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat... berdo'alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu...
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya...
Ibu... maafkan aku...
Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas...
U'R my inspiration...i luv u mom...
Sabtu, 27 Februari 2010
KEHADIRAN II
Yang membawa kisah antara suka dan duka...
Kau bawa tanpa menghalangi niat hati yang menyimpan sejuta kerinduan...
Kehadiranmu...
Yang membawa arti antara mimpi dan nyata...
Kau pun menyadari betapa besar dan berharga arti dirimu bagiku...
Kehadiranmu...
Telah menuntut waktu antara mimpi dan sadar...
Aku akui...tanpamu aku tak berarti apa-apa...
Bagi diri dan jiwa...
Bagi emosi dan rasa...
Bagi rindu dan cinta...
Dan bagi segalanya yang ada...
BILA KAU RINDUKAN AKU
Ku curahkan isi hatiku padamu…
Karna ku yakin kau bisa menyampaikan apa yang ku rasa padanya…
Bahwasanya ku sangat merindukan nya…
Dan ku titipkan rasa rindu ini pada mu…
Untuk kau sampaikan padanya…
… bila kau rindukan aku kala fajar pagi mulai menghangatkan tubuhmu…
Ambillah air wudhu, dan ikut lah duha bersama ku…
Ku kan ada di situ dan menjadi imam untuk mu…
… bila kau rindukan aku dikala matahari tengah di atas kepala dan membakar mu…
Segeralah ambil air wudhu, ikutlah dhuhur bersama ku…
Kan kusejukan panas nya hati dengan dzikirnya…
… bila kau ridukan aku dikala matahari mulai surut dari pandangan…
Basuhlah wajamu dengan air wudhu, dan ikutlah ashar bersamaku…
Kan kubatasi pandanganmu dengan jilbabmu…
… bila kau rindukan aku dikala mentari mulai masuk peraduan nya…
Lari lah dan carilah air wudhu, ikutlah magrib bersama ku…
Ku kan menjagamu dari gelapnya malam dengan doa-doa ku…
… bila kau rindukan aku dikala mentari berganti bulan….
Segeralah ambil air wudhu, dan ikutlah isya bersama ku…
Kan kuberikan sinarku untukmu berjalan di gelapnya malam…
… bila kau rindukan aku dikala kau terlelap di tidurmu…
Bangunlah dan wudhu lah, ikutlah tahajjud bersamaku…
Kan kujaga kau dari apa yang mengganggumu…
dan bila kau rindukan aku di waktu luang mu...
lantunkanlah ayat-ayat nya...
dan ku kan ada di situ untuk menegurmu ketika apa yang kau lantunkan itu salah....
dan kau kan mengerti betapa ku selalu memperhatikan mu....
Dan ku tahu kau adalah mahluk yang istimewa…
Sehingga sang pencipta memberikan mu sebuah anugrah…
Yang tak ada pada diri seoarang lelaki..
Kau diberi kelonggaran dalam menjalankan ibadahnya…
Dan kau bayar dengan perjuangan yang mempertaruhkan nyawa
Di suatuhari nanti…
Jika kau rindukan aku di saat kau sedang mendapat kelonggaran itu…
… Bila datang waktu subuh dan kau rindukan aku….
Keluarlah dan ambillah setiap tetes embun yang ada di ujung dedaunan itu
Kumpulkan dan basuhlah di wajahmu karna di setiap tetes embun itu ada senyum ku…
Agar kau mengerti ku kan selalu memberikan kesegaran untukmu
Dan ku kan selalu ada di dekatmu…
… Ketika fajar tiba dan kau rindukan aku…
Keluarlah dan kan kuhangatkan tubuhmu dengan mentari nya…
Dan ku selalu ada di setiap sinar yang masuk kedalam pori-pori mu dan menghangatkan mu…
Dan kau kan mengerti betapa ku selalu menghangatkan jiwamu yang membeku
… Ketika tengah hari tiba dan kau rindukan aku…
Carilah pohon yang rindang dan duduklah disana…
Dan aku ada di bawah pohon itu
Dan kau kan mengerti betapa ku kan selalu membuatmu sejuk …
… Ketika sore tiba dan kau rindukan aku…
Lihatlah kesebelah barat saat mentari akan terbenam…
Ku ada disana bersama mega yang diciptakan oleh cahayanya…
Dan kau kan mengerti tentang arti keindahan dalam cinta ini…
… Saat mentari hilang dari pandangan dan kau rindukan aku…
Senyum lah dan ambillah nafas yang dalam…
Resapi setiap hembusan angin nya…
Ku ada bersama angin itu memberimu semangat yang baru…
Dan kau kan mengerti tentang arti hidup…
… Saat malam datang dan kau rindukan aku
Lihatlah ke atas akan ada bulan dan bintang
Yang selalu menemanimu…
Ku ada disana memberika cahyanya untuk mu melangkah…
Dan memberimu arah utntuk mu berjalan...
Jika bulan dan bintang tidak ada…
Di ganti dengan awan yang kelam dan hujan yang deras…
Janganlah kau menangis…
Karna ku ada di setiap tetesan air hujan itu…
Dan dengarlah setiap tetes air yang jatuh itu…
Itulah nyayian hati aku untukmu…
Yang ingin mengucapkan rasa rindu ku ini untuk mu…
Dan kau kan mengerti betapa ku selalu merindukan mu…
Bila kau terbangun di tengah malam…
Dan kau ridukan aku….
Kau mungkin merasa kesepian..
Kau salah…
Dengarlah setiap suara binatang malam itu…
Sesungguhnya aku ada bersama mereka…
Yang selalu setia menghiburmu dikala kau kesepian…
Dan kau kan mengerti betapa ku tak pernah ingin melihatmu bersedih…
Dan betapa ku selalu mengkhawatirkan mu…..
Maka izinkanlah aku untuk menjadi IMAM mu…
Menjadi pemimpin di dalam hidup mu…
Menjadi penjagamu di setiap hari-harimu….Amin...
Jumat, 26 Februari 2010
KEHADIRAN I
Menerangi lorong kelam lagi sunyi yang selama ini ku lalui…
Melenyapkan kedukaan yang bagai berkurun lama memenjara jiwaku dalam sepi…
Terasa kini, bahagia ada di mana-mana…
Hanya dirimu yang kini bertahta di hati…
Pandanglah ke dalam mataku...
Selamilah jauh hingga ke dasranya…
Pasti yang akan kau lihat adalah rinduku terhadapmu…
Tapi, apakah getaran cinta yang meruntun hati hanya aku saja yang merasakannya?
Duhai insan... benarkah untaian kata2 yang engkau ucapkan itu?
Tulus dari hatimu kah…?
Ku sangat berharap itu benar adanya…
Aku tahu pernikahan bukan janji syurga...
Bukan janji bahagia, tapi sepenuh hati dan jiwa aku pertaruhkan…
Aku ingin mempunyai 1 impian yang sama dalam membina istana bahagia…
Dan ku harapkan kehadiranku akan bermakna dalam hidupmu…
WAKTU
“Waktu bagaikan aliran sungai yang tak pernah kembali ke asal dimana ia datang, mengalir dan terus mengalir bak umur anak adam yang senantiasa selamanya mencari makna kehidupan hakiki.
Waktu pun adalah kumpulan variable yang tidak semestinya kita biarkan berlalu begitu saja…
Andai saja kita semua mampu untuk menggapai semua yang kita inginkan, rasanya, naluri dan jasad kita akan bersatu kembali, yaa…suatu hari nanti, dimana tidak ada kegalauan dan kesedihan dalam setiap sunggingan senyum dari wajah-wajah polos kita,
Waktu 1 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat bagi kita mengajak hati dan jiwa berpikir tentang segenap ciptaan yang ada, walau kita tak pernah mampu untuk mencari sebuah kesempurnaan hidup...
Wahai sahabat, apa yang kita cari dalam setiap hembusan nafas...? aku haus akan cinta abadi, yang setiap malam menghiasi mimpi…,
Ku harapkan engkau bisa memahami jalan fikirku saat ini, hal serupa yang mungkin dilakukan oleh Robinhood dalam pengembaraannya di hutan Sherwood, berkelana dan mencari keadilan, walau bukanlah jalan yang mudah baginya,
Begitu juga dengan kita… Setiap dimensi jiwa pasti akan kita korbankan demi mencari sebuah pelabuhan cinta hakiki, hanya saja…
by: bunga itu pun mekar kembali setelah kehadiranmu...
CINTA RASULULLAH TERHADAP KHADIJAH
Rasulullah SAW bukan saja pemimpin negara tetapi pemimpin sebuah keluarga. Nabi SAW menikah dalam usia yang muda yaitu 25 tahun. Dalam ilmu kesehatan, pernikahan pada usia segini sangat dianjurkankan selain itu dapat mencegah maksiat yang biasa dilakukan oleh anak muda.
Rasulullah SAW memilih istri pertamanya ialah Khadijah RA. Khadijah mencintai Rasulullah SAW lantaran sifat amanah, berbudi mulia dan kecakapan baginda dalam menguruskan perniagaannya. Rasulullah SAW pula mencintai Khadijah kerana kemuliaan diri dam akhlaknya yang mulia.
Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah bukan bermotif dunia atau syahwat. Pernikahan baginda berdasarkan pertimbangan yang matang,
Baginda pernah datang kepada Khadijah dengan menyatakan kekhawatirannya...
‘aku khawatir diriku’.
Khadijah menenangkan baginda;
‘Demi Allah, Allah tidak mungkin akan menghina dirimu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menjalinkan silaturrahim, meringankan beban kesusahan orang, memberi kepada orang miskin dan menolong orang semasa bencana’.
Sebelum menikah, kita harus berfikir kepada pertimbangan yang matang. Jangan hanya sekedar bicara manis dan semangat cinta saja. Rasulullah SAW dan Khadijah mencintai di antara satu sama lain atas dasar akhlak kedua-duanya. Berlainan sekali dengan umat sekarang yang kebanyakkan bercinta karena nafsu saja.
Berbagai dugaan yang berlaku terhadap Nabi SAW dan Khadijah. Cercaan orang Quraish dan kematian putera Nabi SAW. Semua dihadapi dengan sabar dan tabah.
Ketika Nabi SAW berusia 51 tahun, Khadijah dipanggil Illahi. Walaupun kematian Khadijah, Rasulullah SAW masih setia kepadanya. Nabi SAW selalu membantu dan menghormati kaum kerabat, sahabat dan jiran Khadijah.
‘Berikan kepada si fulan, kerana ia dulu biasa datang kepada Khadijah, berikan ini kepada si fulan kerana dulu ia sentiasa berbuat baik kepada Khadijah.’
Inilah kecintaan dan kesetiaan Rasulullah SAW terhadap isterinya. Isteri yang selalu dicemburui oleh Aisyah...
Minggu, 21 Februari 2010
DI BALIK DEKAT
Paling 15-20 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.
Kemudian....Saya buka pintu belakang taksi itu.
"Margahayu, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, neng!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka bapak supir itu bakal mau mengantar.
Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Moh. Toha. Sekarang melaju ke arah Margahayu.
"Kok Bapak mau ke Margahayu? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.
"Kita kan tidak pernah tau ada apa di balik yang dekat itu, neng" katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."
Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut pak "Dadang", begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui saat itu.
Maka meluncurlah cerita "filosof" dari sopir taksi itu.
"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."
Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.
"Tetapi, tak jarang," imbuh bapak itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."
Ia tersenyum di tengah klakson lintasan jalan Soekarno-Hatta menuju Margahayu.
Saya mengangguk-angguk.
"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tau, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."
...
Beberapa hari berikutnya, karena sesuatu hal yang mendesak pula yang mengharuskan saya untuk bermalam di Margahayu, dirumah salah satu kerabat saya...., saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang berbalik arah...kali ini saya dari Margahayu menuju Moh. Toha. namun beda perusahaan taksi'y.
"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing lagi. Taksi sedang melaju ke arah Moh. Toha. Saya mengamnbil roti sarapan pagi dengan sebotol minuman mineral yang sngaja saya bawa dari rumah buat bekal sarapan karena pagi itu tidak sempat sarapan dirumah.
Ia tertawa...
"Jangankan Moh. Toha, neng," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Margahayu Raya ke Gede Bage jg pernah."
"O, ya?" tanya saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah ibarat kata. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"
"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."
Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.
"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."
"Wah, susah juga, ya Pak?" ucap saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.
"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Kepatihan. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Dago, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Kepatihan"
Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."
"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."
Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.
...
Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Dadang dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai
Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.
Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik, begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak(sedikit).
Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, Nerimo. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah cerminan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah, yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.
Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua bapak di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.
Saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua bapak supir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berpatok pada tataran teori.
Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua bapak sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang saya baca terpampang di salah satu sekolah..."jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Dadang serta Pak Endang, adalah guru saya pada saat itu.
Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab...^_^
BERJALANLAH LEBIH LAMBAT
Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.
“BUKKK….!”
Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
“Ciiittttt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos dibengkel untuk memperbaikinya.
“Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.
“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tau lagi harus melakukan apa.”
Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak.
Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.
Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.
Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.
Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.
Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:
“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik-detik berlalu menyeret kita ke akhir hidup ini.
Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita nikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.
Saat kita melaju ada banyak hal yang terjadi di kanan kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan buat kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.
Allah tak pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, Ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaran-Nya. Maka dengarkanlah firman-Nya ini:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar,
dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata “Kami mendengarkan”, tapi sebenarnya mereka tidak (mau) mendengar.
Sesungguhnya seburuk-buruknya mahluk di sisi Allah ialah; orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.
kalau Sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal 20-24)
Sudahkah kita berusaha memfungsikan pendengaran kita dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mendengar firman-firman Allah dalam al-Quran? Atau suara-suara panggilan yang hendak meminta bantuan kita? Atau ajakan-ajakan agar kita lebih peduli kepada sekeliling kita? Ataukah kita akan tetap melaju cepat sampai seseorang melemparkan batunya ke arah kita? Atau sampai Allah sendiri yang melemparkan batu-Nya?
Sudah selaraskah hidup kita dengan hidup orang-orang di sekeliling kita? Mungkin, kita telah menjadi orang yang terbaik bagi diri kita sendiri. Namun, sudahkah kita menjadi orang yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita? Bagi orang-orang di sekitar kita.
Sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Maka, janganlah kita menambah jumlah mereka.
“Strongman stand for his life, but the stronger stand for others.”
Orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri. Ia adalah orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada yang lebih kuat dari orang kuat. Mereka adalah orang-orang yang mampu menanggung beban hidup orang lain.
Berjalanlah lebih lambat…! Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah swt.
Sabtu, 20 Februari 2010
GARAM DAN TELAGA
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.