Minggu, 21 Februari 2010

DI BALIK DEKAT

Siang itu ditengah teriknya mentari....Saya mendekati sebuah taksi biru. Sebenarnya saya ragu, karena Margahayu bukan jarak yang jauh dari Moh. Toha, tempat saya berdiri pada saat itu.

Paling 15-20 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.
Kemudian....Saya buka pintu belakang taksi itu.

"Margahayu, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, neng!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka bapak supir itu bakal mau mengantar.

Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Moh. Toha. Sekarang melaju ke arah Margahayu.

"Kok Bapak mau ke Margahayu? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.

"Kita kan tidak pernah tau ada apa di balik yang dekat itu, neng" katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."

Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut pak "Dadang", begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui saat itu.

Maka meluncurlah cerita "filosof" dari sopir taksi itu.

"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."

Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.

"Tetapi, tak jarang," imbuh bapak itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."

Ia tersenyum di tengah klakson lintasan jalan Soekarno-Hatta menuju Margahayu.
Saya mengangguk-angguk.

"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tau, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."
...
Beberapa hari berikutnya, karena sesuatu hal yang mendesak pula yang mengharuskan saya untuk bermalam di Margahayu, dirumah salah satu kerabat saya...., saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang berbalik arah...kali ini saya dari Margahayu menuju Moh. Toha. namun beda perusahaan taksi'y.

"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing lagi. Taksi sedang melaju ke arah Moh. Toha. Saya mengamnbil roti sarapan pagi dengan sebotol minuman mineral yang sngaja saya bawa dari rumah buat bekal sarapan karena pagi itu tidak sempat sarapan dirumah.

Ia tertawa...

"Jangankan Moh. Toha, neng," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Margahayu Raya ke Gede Bage jg pernah."

"O, ya?" tanya saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah ibarat kata. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"

"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."

Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.

"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."

"Wah, susah juga, ya Pak?" ucap saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.

"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Kepatihan. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Dago, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Kepatihan"

Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."

"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."

Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.
...

Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Dadang dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai
Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.

Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik, begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak(sedikit).

Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, Nerimo. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah cerminan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah, yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.

Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua bapak di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.

Saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua bapak supir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berpatok pada tataran teori.

Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua bapak sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang saya baca terpampang di salah satu sekolah..."jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Dadang serta Pak Endang, adalah guru saya pada saat itu.

Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab...^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar