Minggu, 28 Februari 2010
IBU IS MY WOMEN'S HERO
Dan untuk bisa mendapat tiket masuk ke jalan tersebut, dibutuhkan "Do'a Ibu", karena Ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi di mata Allah...
Kenanglah Ibu yang menyayangimu...
Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kita pergi...
Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu, tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu...
Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu..? Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit..?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah tempat kau dilahirkan. Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Simpanlah sejenak kesibukan-kesibukan duniawi yang selalu membuatmu lupa untuk pulang.
Segeralah jenguk ibumu yang berdiri menantimu di depan pintu bahkan sampai malampun kian larut.
Jangan biarkan engkau kehilangan saat yang akan kau rindukan di masa datang ketika ibu telah tiada...
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita...
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia...
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan pagi untukmu makan...
Tak ada lagi yang rela merawatmu sampai larut malam ketika engkau sakit...
Tak ada lagi dan tak ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu di setiap hembusan nafasnya...
Kembalilah segera...
Peluklah ibu yang selalu menyayangimu...
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik di akhir hayatnya.
Sahabat... berdo'alah untuk kesehatannya dan rasakanlah pelukan cinta dan kasih sayangnya.
Jangan biarkan engkau menyesal di masa datang, kembalilah pada ibu yang selalu menyayangimu...
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya...
Ibu... maafkan aku...
Sampai kapanpun jasamu tak akan terbalas...
U'R my inspiration...i luv u mom...
Sabtu, 27 Februari 2010
KEHADIRAN II
Yang membawa kisah antara suka dan duka...
Kau bawa tanpa menghalangi niat hati yang menyimpan sejuta kerinduan...
Kehadiranmu...
Yang membawa arti antara mimpi dan nyata...
Kau pun menyadari betapa besar dan berharga arti dirimu bagiku...
Kehadiranmu...
Telah menuntut waktu antara mimpi dan sadar...
Aku akui...tanpamu aku tak berarti apa-apa...
Bagi diri dan jiwa...
Bagi emosi dan rasa...
Bagi rindu dan cinta...
Dan bagi segalanya yang ada...
BILA KAU RINDUKAN AKU
Ku curahkan isi hatiku padamu…
Karna ku yakin kau bisa menyampaikan apa yang ku rasa padanya…
Bahwasanya ku sangat merindukan nya…
Dan ku titipkan rasa rindu ini pada mu…
Untuk kau sampaikan padanya…
… bila kau rindukan aku kala fajar pagi mulai menghangatkan tubuhmu…
Ambillah air wudhu, dan ikut lah duha bersama ku…
Ku kan ada di situ dan menjadi imam untuk mu…
… bila kau rindukan aku dikala matahari tengah di atas kepala dan membakar mu…
Segeralah ambil air wudhu, ikutlah dhuhur bersama ku…
Kan kusejukan panas nya hati dengan dzikirnya…
… bila kau ridukan aku dikala matahari mulai surut dari pandangan…
Basuhlah wajamu dengan air wudhu, dan ikutlah ashar bersamaku…
Kan kubatasi pandanganmu dengan jilbabmu…
… bila kau rindukan aku dikala mentari mulai masuk peraduan nya…
Lari lah dan carilah air wudhu, ikutlah magrib bersama ku…
Ku kan menjagamu dari gelapnya malam dengan doa-doa ku…
… bila kau rindukan aku dikala mentari berganti bulan….
Segeralah ambil air wudhu, dan ikutlah isya bersama ku…
Kan kuberikan sinarku untukmu berjalan di gelapnya malam…
… bila kau rindukan aku dikala kau terlelap di tidurmu…
Bangunlah dan wudhu lah, ikutlah tahajjud bersamaku…
Kan kujaga kau dari apa yang mengganggumu…
dan bila kau rindukan aku di waktu luang mu...
lantunkanlah ayat-ayat nya...
dan ku kan ada di situ untuk menegurmu ketika apa yang kau lantunkan itu salah....
dan kau kan mengerti betapa ku selalu memperhatikan mu....
Dan ku tahu kau adalah mahluk yang istimewa…
Sehingga sang pencipta memberikan mu sebuah anugrah…
Yang tak ada pada diri seoarang lelaki..
Kau diberi kelonggaran dalam menjalankan ibadahnya…
Dan kau bayar dengan perjuangan yang mempertaruhkan nyawa
Di suatuhari nanti…
Jika kau rindukan aku di saat kau sedang mendapat kelonggaran itu…
… Bila datang waktu subuh dan kau rindukan aku….
Keluarlah dan ambillah setiap tetes embun yang ada di ujung dedaunan itu
Kumpulkan dan basuhlah di wajahmu karna di setiap tetes embun itu ada senyum ku…
Agar kau mengerti ku kan selalu memberikan kesegaran untukmu
Dan ku kan selalu ada di dekatmu…
… Ketika fajar tiba dan kau rindukan aku…
Keluarlah dan kan kuhangatkan tubuhmu dengan mentari nya…
Dan ku selalu ada di setiap sinar yang masuk kedalam pori-pori mu dan menghangatkan mu…
Dan kau kan mengerti betapa ku selalu menghangatkan jiwamu yang membeku
… Ketika tengah hari tiba dan kau rindukan aku…
Carilah pohon yang rindang dan duduklah disana…
Dan aku ada di bawah pohon itu
Dan kau kan mengerti betapa ku kan selalu membuatmu sejuk …
… Ketika sore tiba dan kau rindukan aku…
Lihatlah kesebelah barat saat mentari akan terbenam…
Ku ada disana bersama mega yang diciptakan oleh cahayanya…
Dan kau kan mengerti tentang arti keindahan dalam cinta ini…
… Saat mentari hilang dari pandangan dan kau rindukan aku…
Senyum lah dan ambillah nafas yang dalam…
Resapi setiap hembusan angin nya…
Ku ada bersama angin itu memberimu semangat yang baru…
Dan kau kan mengerti tentang arti hidup…
… Saat malam datang dan kau rindukan aku
Lihatlah ke atas akan ada bulan dan bintang
Yang selalu menemanimu…
Ku ada disana memberika cahyanya untuk mu melangkah…
Dan memberimu arah utntuk mu berjalan...
Jika bulan dan bintang tidak ada…
Di ganti dengan awan yang kelam dan hujan yang deras…
Janganlah kau menangis…
Karna ku ada di setiap tetesan air hujan itu…
Dan dengarlah setiap tetes air yang jatuh itu…
Itulah nyayian hati aku untukmu…
Yang ingin mengucapkan rasa rindu ku ini untuk mu…
Dan kau kan mengerti betapa ku selalu merindukan mu…
Bila kau terbangun di tengah malam…
Dan kau ridukan aku….
Kau mungkin merasa kesepian..
Kau salah…
Dengarlah setiap suara binatang malam itu…
Sesungguhnya aku ada bersama mereka…
Yang selalu setia menghiburmu dikala kau kesepian…
Dan kau kan mengerti betapa ku tak pernah ingin melihatmu bersedih…
Dan betapa ku selalu mengkhawatirkan mu…..
Maka izinkanlah aku untuk menjadi IMAM mu…
Menjadi pemimpin di dalam hidup mu…
Menjadi penjagamu di setiap hari-harimu….Amin...
Jumat, 26 Februari 2010
KEHADIRAN I
Menerangi lorong kelam lagi sunyi yang selama ini ku lalui…
Melenyapkan kedukaan yang bagai berkurun lama memenjara jiwaku dalam sepi…
Terasa kini, bahagia ada di mana-mana…
Hanya dirimu yang kini bertahta di hati…
Pandanglah ke dalam mataku...
Selamilah jauh hingga ke dasranya…
Pasti yang akan kau lihat adalah rinduku terhadapmu…
Tapi, apakah getaran cinta yang meruntun hati hanya aku saja yang merasakannya?
Duhai insan... benarkah untaian kata2 yang engkau ucapkan itu?
Tulus dari hatimu kah…?
Ku sangat berharap itu benar adanya…
Aku tahu pernikahan bukan janji syurga...
Bukan janji bahagia, tapi sepenuh hati dan jiwa aku pertaruhkan…
Aku ingin mempunyai 1 impian yang sama dalam membina istana bahagia…
Dan ku harapkan kehadiranku akan bermakna dalam hidupmu…
WAKTU
“Waktu bagaikan aliran sungai yang tak pernah kembali ke asal dimana ia datang, mengalir dan terus mengalir bak umur anak adam yang senantiasa selamanya mencari makna kehidupan hakiki.
Waktu pun adalah kumpulan variable yang tidak semestinya kita biarkan berlalu begitu saja…
Andai saja kita semua mampu untuk menggapai semua yang kita inginkan, rasanya, naluri dan jasad kita akan bersatu kembali, yaa…suatu hari nanti, dimana tidak ada kegalauan dan kesedihan dalam setiap sunggingan senyum dari wajah-wajah polos kita,
Waktu 1 tahun lebih bukanlah waktu yang singkat bagi kita mengajak hati dan jiwa berpikir tentang segenap ciptaan yang ada, walau kita tak pernah mampu untuk mencari sebuah kesempurnaan hidup...
Wahai sahabat, apa yang kita cari dalam setiap hembusan nafas...? aku haus akan cinta abadi, yang setiap malam menghiasi mimpi…,
Ku harapkan engkau bisa memahami jalan fikirku saat ini, hal serupa yang mungkin dilakukan oleh Robinhood dalam pengembaraannya di hutan Sherwood, berkelana dan mencari keadilan, walau bukanlah jalan yang mudah baginya,
Begitu juga dengan kita… Setiap dimensi jiwa pasti akan kita korbankan demi mencari sebuah pelabuhan cinta hakiki, hanya saja…
by: bunga itu pun mekar kembali setelah kehadiranmu...
CINTA RASULULLAH TERHADAP KHADIJAH
Rasulullah SAW bukan saja pemimpin negara tetapi pemimpin sebuah keluarga. Nabi SAW menikah dalam usia yang muda yaitu 25 tahun. Dalam ilmu kesehatan, pernikahan pada usia segini sangat dianjurkankan selain itu dapat mencegah maksiat yang biasa dilakukan oleh anak muda.
Rasulullah SAW memilih istri pertamanya ialah Khadijah RA. Khadijah mencintai Rasulullah SAW lantaran sifat amanah, berbudi mulia dan kecakapan baginda dalam menguruskan perniagaannya. Rasulullah SAW pula mencintai Khadijah kerana kemuliaan diri dam akhlaknya yang mulia.
Pernikahan Rasulullah SAW dengan Khadijah bukan bermotif dunia atau syahwat. Pernikahan baginda berdasarkan pertimbangan yang matang,
Baginda pernah datang kepada Khadijah dengan menyatakan kekhawatirannya...
‘aku khawatir diriku’.
Khadijah menenangkan baginda;
‘Demi Allah, Allah tidak mungkin akan menghina dirimu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menjalinkan silaturrahim, meringankan beban kesusahan orang, memberi kepada orang miskin dan menolong orang semasa bencana’.
Sebelum menikah, kita harus berfikir kepada pertimbangan yang matang. Jangan hanya sekedar bicara manis dan semangat cinta saja. Rasulullah SAW dan Khadijah mencintai di antara satu sama lain atas dasar akhlak kedua-duanya. Berlainan sekali dengan umat sekarang yang kebanyakkan bercinta karena nafsu saja.
Berbagai dugaan yang berlaku terhadap Nabi SAW dan Khadijah. Cercaan orang Quraish dan kematian putera Nabi SAW. Semua dihadapi dengan sabar dan tabah.
Ketika Nabi SAW berusia 51 tahun, Khadijah dipanggil Illahi. Walaupun kematian Khadijah, Rasulullah SAW masih setia kepadanya. Nabi SAW selalu membantu dan menghormati kaum kerabat, sahabat dan jiran Khadijah.
‘Berikan kepada si fulan, kerana ia dulu biasa datang kepada Khadijah, berikan ini kepada si fulan kerana dulu ia sentiasa berbuat baik kepada Khadijah.’
Inilah kecintaan dan kesetiaan Rasulullah SAW terhadap isterinya. Isteri yang selalu dicemburui oleh Aisyah...
Minggu, 21 Februari 2010
DI BALIK DEKAT
Paling 15-20 menit sudah sampai. Jarak sedekat itu tentu tidak sebanding dengan lamanya sopir taksi tersebut mangkal di tempat ini. Oleh karenanya, saya sudah bersiap untuk tidak kecewa.
Kemudian....Saya buka pintu belakang taksi itu.
"Margahayu, Pak?" tanya saya setengah ragu. "Mari, neng!" kata sopir taksi itu mengiyakan, tanpa berpikir sejenakpun.
Tentu saja saya gembira, karena tidak menyangka bapak supir itu bakal mau mengantar.
Saya segera naik ke jok belakang, menutup pintu. Taksi pun melaju. Sebentar kemudian berputar 180 derajat di perempatan Moh. Toha. Sekarang melaju ke arah Margahayu.
"Kok Bapak mau ke Margahayu? Kan jaraknya dekat aja, Pak?" tanya saya memancing.
"Kita kan tidak pernah tau ada apa di balik yang dekat itu, neng" katanya sejenak kemudian. Senyumnya saya lihat di spion atas kepalanya. "Jika penumpang yang jarak dekat tidak diambil, rasanya seperti tidak menghargai Tuhan yang membagi rezeki buat kita."
Berkata bijak ternyata bukan hanya monopoli kaum filosof. Tetapi juga bisa keluar dari mulut pak "Dadang", begitu nama yang terpampang di dashboard, seorang sopir taksi bersahaja yang saya temui saat itu.
Maka meluncurlah cerita "filosof" dari sopir taksi itu.
"Saya banyak mengalami, kadang memang rasanya gimana gitu ketika sudah lama ngantri, ternyata dapat penumpang yang dekat," katanya sembari menarik napas perlahan. "Dapat lagi, dekat lagi. Dapat lagi, dekat lagi."
Saya cuma tersenyum. Tentu saja saya bisa merasakan "duka" itu. Seperti kita mengharapkan durian runtuh, tetapi apa daya jika kenari yang ternyata melayang jatuh.
"Tetapi, tak jarang," imbuh bapak itu, "saya dapat yang dekat-dekat, tetapi berkali-kali. Juga pernah sekalinya dapat yang jauh, tetapi setelah itu baliknya tidak membawa penumpang sama sekali."
Ia tersenyum di tengah klakson lintasan jalan Soekarno-Hatta menuju Margahayu.
Saya mengangguk-angguk.
"Yah, artinya lebih baik terima saja yang masuk ke taksi, entah jurusan dekat ataupun jauh," kata saya. "Karena kita tidak pernah tau, setelah itu dapat rezeki dalam bentuk apa lagi."
...
Beberapa hari berikutnya, karena sesuatu hal yang mendesak pula yang mengharuskan saya untuk bermalam di Margahayu, dirumah salah satu kerabat saya...., saya menumpang taksi dari tempat dan dengan tujuan yang berbalik arah...kali ini saya dari Margahayu menuju Moh. Toha. namun beda perusahaan taksi'y.
"Kok Bapak mau mengantar penumpang dengan tujuan yang dekat seperti saya?" tanya saya memancing lagi. Taksi sedang melaju ke arah Moh. Toha. Saya mengamnbil roti sarapan pagi dengan sebotol minuman mineral yang sngaja saya bawa dari rumah buat bekal sarapan karena pagi itu tidak sempat sarapan dirumah.
Ia tertawa...
"Jangankan Moh. Toha, neng," katanya bersemangat, "bahkan saya pernah mengantar orang dari Margahayu Raya ke Gede Bage jg pernah."
"O, ya?" tanya saya heran. Jarak itu tak lebih dari selemparan lembing atau sebidikan panah ibarat kata. "Argo Bapak bahkan mungkin tidak sempat bergerak dari angka awal lima ribu perak, dong?"
"Yah, waktu itu sedang macet sih. Sempat nyampai enam ribu rupiah."
Saya mengangguk-angguk. Saya berandai-andai. Lima belas persen dari enam ribu tak lebih dari seribu rupiah. Itu yang dia dapat untuk mengantar penumpang sedekat itu, buah dari mengantri di pool mungkin setengah hari.
"Belum lagi ketika kembali ke pool, ternyata sudah penuh," katanya menerawang. "Harus berputar dulu tiga-empat kali untuk dapat antrian lagi."
"Wah, susah juga, ya Pak?" ucap saya. Sudah dapat yang sangat dekat, kembali ke pool antri di paling belakang lagi. Itu pun setelah muter lebih dulu.
"Ya. Bahkan saya pernah, sudah mengantri di belakang, diserobot teman lagi," katanya enteng, bahkan cenderung riang. "Saya sih pasrah saja. Tidak lama, teman saya mendapat penumpang dengan tujuan Kepatihan. Sebentar kemudian, seorang penumpang mengetok pintu mobil saya. Dago, Pak? Tentu saja saya ambil karena jaraknya jauh, berlipat-lipat dibandingkan Kepatihan"
Saya ikut tersenyum mendengar ceritanya. "Itu semua buah dari keikhlasan, Pak."
"Alhamdulillah, saya nggak pernah menolak penumpang sedekat apapun tujuan mereka. Saya yakin, Allah memberikan rezeki saya dengan cara yang demikian. Kadang sedikit, kadang banyak. Saya tidak pilih-pilih."
Demikianlah Pak Endang, begitu namanya terpampang di dashboard, menyimpulkan. Sebuah kesimpulan sederhana yang tidak sesederhana maknanya.
...
Saya banyak belajar dari kedua orang itu, Pak Dadang dan Pak Endang; sopir-sopir taksi yang sederhana. Mereka masih "menghargai Tuhan", begitu bahasa mereka. Caranya sungguh sangat sederhana: mengantarkan penumpang yang naik taksi mereka, meski dekat sekalipun jaraknya. Menolak penumpang, sama saja dengan menolak rezeki yang sudah Allah hidangkan di hadapan. Menolak penumpang, sama halnya tidak menghargai
Sang Pembagi Rezeki. Karenanya, tidak ada yang sepatutnya harus dilakukan, bagi mereka, kecuali ikhlas mengantar.
Terbukti dalam berbagai kesempatan mengantar penumpang yang dekat itu, ternyata sambung-menyambung dengan penumpang yang turun naik, begitu satu penumpang turun, ada yang langsung naik. Bahkan tak jarang, banyak penumpang jarak dekat yang memberikan "uang lebih" berkat kesediaan mereka mengantar tanpa mengeluh. Jumlahnya sering lebih banyak ketimbang persentase yang mereka terima dari mengantar penumpang jarak jauh. Jarak dekat, karenanya tidak lantas identik dengan rezeki cekak(sedikit).
Sungguh sebuah sikap hidup yang, kata orang Jawa, Nerimo. Pasrah, tetapi bukan layaknya wayang. Dalam bahasa agama, barangkali inilah cerminan sikap tawakal setelah berazam. Bukan sikap pasrah yang salah-kaprah, yang sering salah dipahami sebagai "pulung sugih pulung mlarat". Kalau Tuhan menakdirkan kita kaya, tanpa berusaha pun, kita akan kaya. Kalau ditakdir miskin, bekerja keras peras-keringat-banting-tulang sekalipun ibaratnya, tetap akan miskin.
Saya lantas teringat dengan sebuah hadits, bahwa Allah itu tergantung pada persangkaaan (dzon) hamba pada-Nya. Kedua bapak di atas, dalam pandangan saya, telah memberikan persangkaan yang baik pada rencana Tuhan di balik penumpang yang dekat itu. Ketika sopir yang lain menyangka "rugi" ketika harus mengantar penumpang yang dekat, keduanya tidak pernah berprasangka demikian.
Saya yakin, keduanya, juga kita, paham bahwa rezeki itu datangnya bisa tidak disangka-sangka. Tetapi sementara kedua bapak supir di atas sudah mempraktekkan pemahaman itu di kehidupan keseharian, kita sendiri barangkali masih berpatok pada tataran teori.
Jika Nabi Musa pernah belajar kepada Khidir, kita yang bukan siapa-siapa ini tak ada salahnya belajar pada orang-orang sederhana seperti kedua bapak sopir taksi di atas. Benar juga sebuah tulisan yang saya baca terpampang di salah satu sekolah..."jika semua tempat adalah sekolah, maka setiap orang adalah guru. Dan Pak Dadang serta Pak Endang, adalah guru saya pada saat itu.
Wa Allahu a'lamu bi ash-shawab...^_^
BERJALANLAH LEBIH LAMBAT
Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar dengan penuh rasa bangga dan prestise. Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, dia melihat seseorang anak kecil yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak yang tampak melintas sebelumnya.
“BUKKK….!”
Aah…, ternyata, ada sebuah batu seukuran kepalan tangan yang menimpa Jaguar itu yang dilemparkan si anak itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.
“Ciiittttt….” ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, dimundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya anak yang dia tahu telah melempar batu ke mobilnya, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.
“Apa yang telah kau lakukan!? Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu.
“Kamu tentu paham, mobil baru jaguarku ini akan butuh banyak ongkos dibengkel untuk memperbaikinya.
“Ujarnya lagi dengan kesal dan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Si anak tampak menggigil ketakutan dan pucat, dan berusaha meminta maaf.
“Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tau lagi harus melakukan apa.”
Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun.
“Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi.
“Itu disana ada kakakku yang lumpuh. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Saya tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat, tapi tak seorang pun yang mau menolongku. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak.
Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu.
“Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi saya tak sanggup mengangkatnya.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam.
Amarahnya mulai sedikit reda setelah dia melihat seorang lelaki yang tergeletak yang sedang mengerang kesakitan.
Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera dia berjalan menuju lelaki tersebut, di angkatnya si cacat itu menuju kursi rodanya.
Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut yang memar dan tergores, seperti sisi pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja.
“Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatan Bapak.”
Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Ditelusurinya pintu Jaguar barunya yang telah tergores oleh lemparan batu tersebut, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya.
Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele, tapi pengalaman tadi menghentakkan perasaannya.
Akhirnya ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat:
“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Seperti kendaraan, hidup akan terus melaju dari waktu ke waktu. Detik-detik berlalu menyeret kita ke akhir hidup ini.
Dan kita adalah pengusaha muda tadi. Kita fokus dengan apa yang kita kejar. Kita nikmati hasil usaha kita sendiri. Kita bahagia sendirian. Kita pacu kendaraan kita dengan cepat. Kita injak pedal hidup kita dengan mantap untuk meraih tujuan di depan kita secepatnya. Hingga tak jarang kita lupa sekeliling kita.
Saat kita melaju ada banyak hal yang terjadi di kanan kiri kita. Banyak hal yang bisa kita jadikan pelajaran. Banyak hal yang sebenarnya adalah peringatan buat kita. Namun, kita melaju terlalu cepat. Kita terlalu fokus terhadap keinginan kita. Hingga kita lupa segalanya.
Allah tak pernah berhenti berbicara kepada kita. Dia berbicara lewat lidah orang-orang sekeliling kita. Ia berbicara lewat kejadian-kejadian di alam semesta. Bahkan, Ia berbicara langsung kepada nurani kita. Namun, seringkali kita terlalu sibuk dengan diri kita dan tak punya waktu untuk sejenak mendengar ujaran-Nya. Maka dengarkanlah firman-Nya ini:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar,
dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata “Kami mendengarkan”, tapi sebenarnya mereka tidak (mau) mendengar.
Sesungguhnya seburuk-buruknya mahluk di sisi Allah ialah; orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun.
kalau Sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal 20-24)
Sudahkah kita berusaha memfungsikan pendengaran kita dengan sebaik-baiknya? Sudahkah kita mendengar firman-firman Allah dalam al-Quran? Atau suara-suara panggilan yang hendak meminta bantuan kita? Atau ajakan-ajakan agar kita lebih peduli kepada sekeliling kita? Ataukah kita akan tetap melaju cepat sampai seseorang melemparkan batunya ke arah kita? Atau sampai Allah sendiri yang melemparkan batu-Nya?
Sudah selaraskah hidup kita dengan hidup orang-orang di sekeliling kita? Mungkin, kita telah menjadi orang yang terbaik bagi diri kita sendiri. Namun, sudahkah kita menjadi orang yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita? Bagi orang-orang di sekitar kita.
Sudah terlalu banyak orang-orang egois di negeri kita. Sudah terlalu banyak orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Sudah terlalu banyak orang yang memperjuangkan kepentingan dirinya sendiri. Maka, janganlah kita menambah jumlah mereka.
“Strongman stand for his life, but the stronger stand for others.”
Orang kuat adalah orang yang mampu berdiri sendiri dan menanggung beban hidupnya sendiri. Ia adalah orang yang tak menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Namun, ada yang lebih kuat dari orang kuat. Mereka adalah orang-orang yang mampu menanggung beban hidup orang lain.
Berjalanlah lebih lambat…! Siapa tahu ada orang yang membutuhkan pertolongan kita. Siapa tahu ada orang yang hendak memberikan kebaikan kepada kita. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang berharga untuk kita bawa ke hadapan Allah swt.
Sabtu, 20 Februari 2010
GARAM DAN TELAGA
Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.
“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.
“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.
Jumat, 19 Februari 2010
Terseyum Dengan Penuh Cinta
Pagi itu cerah di desaku, mereka bejalan menuju ke ladang bersiap untuk bekerja, dengan membawa perlengkapannya. Mereka menanam untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Mereka merawatnya tanaman itu seperti mereka merawat anak-anaknya. Hangatnya pagi kemudian berubah menjadi panas siang. Keringat mereka pun bercucuran, tangannya yang berlumpur tanah dia jadikan untuk menyeka keringatnya. Kulitnya yang berubah gelap terkena sinar matahari yang panas, mereka tak pedulikan itu. Dia tetap tersenyum, tepat semangat demi anak-anak nya untuk masa depan anak-anak nya. Panas nya siang seketika berubah menjadi mendung, hujan pun turun. Mereka tidak menghiraukannya. Keringat yang panas pun terbasuh oleh air hujan. Mereka tetap kuat, tetap tersenyum demi anak-anak nya. Adzan pun berkumandang mereka pulang dengan keadaan kotor penuh lumpur tanah, mereka tetap tersenyum pada anak-anak nya. Merekapun membersihkan tubuhnya untuk melakuakan ibadah sholat. Dalam do’anya mereka memohon kepada Alloh SWT agar anak-anak menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua dan cerdas.
Mereka duduk sebentar untuk menghilangkan sedikit kekelahannya di meja makan. Setelah tu merekapun bekerja kembali untuk mendapatkan rizqi yang halal yang bersih untuk anak-anaknya. Mereka tidak menginginkan makanan yang dimakan anak-anaknya adalah makanan haram, Mereka sungguh menjaga dari semua itu.
Senja itu berganti malam meraka sudah siap dirumah berkumpul dengan anak-anaknya. Sambil melepaskan lelah, mereka berpesan kepada anak-anak nya “Nak! Ingatlah pesen dari kami, jangan pernah menyerah dengan keadaan, berusahalah untuk menjadi yang terbaik, kalian harus bisa jadi “wong”. Orang yang mampu berfikir sebelum bertindak, orang yang mau berubah menuju ke kebaikan, orang yang selalu tersenyum dan kuat menghadapi cobaan. Jangan mengeluh tapi berusahalah untuk keluar dari masalah itu, Ingat itu Nak”...“IngsyaAlloh “ sambut anak-anak nya.
Mereka itu siapa ?.....
Mereka sungguh kuat, mereka selalu semangat, mereka selalu tersenyum dikala cobaan menghadang, mereka melewatinya dengan senyuman dan ketabahan….
Mereka itu siapa ?......
Mereka itu adalah Orang yang sangat aku cintai, akau sayang padanya, mereka selalu kurindukan. Jika aku teringat mereka tak kuasa air mata ini mengalir karna aku sangat merindukannya, aku sangat mencintainya, sampai kapanpun………
Mereka itu adalah Ummi dan Abi…..aku mencintai kalian, ku selalu rindu pada kalian.
kau mencintaiku
seperti matahari mencintai titah tuhannya
tak pernah lelah membagi cerah cahaya
tak pernah lelah membagi cerah cahaya
tak pernah lelah menghangatkan jiwa (Novel “KCB”)
(Aku Sungguh Sangat mencintaimu ……….Ummi dan Abi)
Jangan menangis…
Jangan bersedih ini hanya cobaan dari Alloh SWT.
Mulut ini tak bisa terucap kata-kata, terkunci untuk membantah perintah-perintahmu. Tapi hati ini kan selalu berdo’a kepada Alloh SWT agar engkau selalu diberikan kesehatan lahir dan bathin.
Mulut ini tak bisa mengucapkan kata-kata pujian kepada mu karna terlalu banyak jasa-jasa mu, tapi aku akan selalu memberikan kebanggaan kepada mu.
Dalam sepi dan sedihku kau selalu datang
Memelukku, menciumku, menghangatkan tubuh ini
Tak ku lupakan semua karna engkau pembesar hatiku
Kau selalu tegar dikala cobaan menghadang
Kau mengantarku sampai kesini
Ke tempat tujuan di kakimu aku bersujud
Tak pernah lelah engkau mencucurkan keringatmu demi Ku
Ketika dalam gelap engkau datang dengan cahaya terang
Kau mengendongku, menuntunku, mengantarku ketempat yang benar
Kau tetap tersenyum di hadapan Ku
Kau ku cintai, ku sayangi sampai raga ini tak bernyawa (by.efull)
Selasa, 16 Februari 2010
LIFE COMPETITION
Diantara kebaikan orang muslim, ialah orang yang meninggalkan perkara yang tidak berfaedah....
Berbagai masukan yang koe dapatkan dari orang-orang terdekat koe ...
"Kejarlah cita-cita mu, karna kamu punya ambisi"
"Mungkin peluang yang kamu dapatkan hanya sekali, maka dapatkanlah peluang itu"
"Mumpung masih muda "
"Hidup untuk berkorban, jadi jangan sesali jika pengorbanan itu tidak membawakan hasil"
Really ......really
Perjalanan Hidup....................
Kekuatan cinta Ibu
Suatu malam seorang anak berkumpul dengan keluarganya. Dia meminta pendapat orang tuanya tentang keinginannya melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah.
Ibu mau Tanya nak kamu kan dah kerja tapi malah pingin kuliah malah mengundurkan diri dari kerja, kenapa nak …! Ya Bue.. Saefull ingin mencari pengalaman di bangku kuliah dan ingin mencari jati diri, supaya Saefull bisa lebih berbakti pada Umi dan Abi , ingsyaAlloh.
“Nak , ibu ingsyaAlloh bisa bantu biayai kuliah mu tapi agak sulit karna adik mu Amir mau ngelanjutin sekolah ke SMP, tapi ibu pesen supaya kamu prihatin di sana di perautauan, hemat biaya jangan boros”.
“Ibu pesen lagi nak untuk sekarang jangan memikirkan wanita karna akan menghambat keinginan mu, ibu minta nanti kalau sudah lulus dan kerja dan dapat uang y a setidaknya kamu bisa bantu-bantu ibu ,adik mu Amir dan Ihsan biar bisa sekolah tinggi” Itu pesen dari ibu nak”!
“Ya Bue…ingsyaAlloh Saefull akan berusaha untuk ibu, untuk bapak untuk adik-adik untuk keluarga ini”.
Setelah melalui test masuk perguruan tinggi dan mendapatkan ijin dari ibunya , saefull pun masuk di bangku kuliah tepatnya sebuah Politeknik di bandung.
Hari pertama pun Ia jalani sebagai mahasiswa….
…..BERSAMBUNG…..